ZAKAT DAN PEMBERDAYAAN

Oleh: Darmono

BAB I

PENDAHULUAN

 

Zakat merupakan senjata ampuh yang dijalankan oleh para pemimpin Islam sebagai suatu sistem penyeimbang/penstabil dalam perekonomian sebagai suatu kebijakan moneter. Sebagaimana yang telah di Firmankan oleh Allah dalam surat at-Taubah ayat 60 dan 103:

اِنَّمَا الصَّدَ قَتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالمَْسَكين والعاملين عليها والمؤلفة قلوبهم وفي الرقاب والغارمين وفي سبيل الله وابن السبيل ۖ فريضة من الله ۗۗ والله عليم حكيم .

Artinya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(Q.S. At-Taubah: 60).

خذمن اموالهم صد قة تطهرهم وتزكيهم بها وصل عليهم ۖ ان صلو تك سكن لهم ۗ والله سميع عليم .

Artinya:”Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan     dan mensucikanmereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”(Q.S. At-Taubah:103).

Pemberdayaan (filantropi) zakat yang dilaksanakan secara maksimal seharusnya dapat meminimalisir kemiskinan sehingga menjadikan sejahtera bagi masyarakat dan ekonomi yang stabil. Namun kenyataan sekarang banyaknya masyarakat yang kekurangan dan ekonomi yang tidak stabil ternyata disebabkan bahwa zakat hanya dianggap suatu ritual keagamaan saja dan hanya sebuah karitas (belas kasihan) bukan filantropi (pemberdayaan).

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Pengertian Zakat

Secara etimologi (bahasa) kata zakat merupakan kata dasar (masdar) dari (الزكا ة) . Zakat yang berarti berkah, tumbuh, bersih dan baik. Sesuatu itu zaka, berarti tumbuh dan berkembang, dan seseorang itu zaka, berarti orang itu baik, ditinjau dari sudut bahasa, adalah suci, tumbuh, berkah, dan terpuji : semua digunakan dalam qur’an dan hadis. Kata dasar zakat berarti bertambah dan tumbuh, sehingga bisa dikatakan, tanaman itu zaka, artinya tumbuh, sedang setiap sesuatu yang bertambah disebut zaka artinya bertambah. Bila satu tanaman tumbuh tanpa cacat, maka kata zakat disini berarti bersih.

Dalam terminologi fikih, zakat berarti sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah diserahkan kepada orang-orang yang berhak, disamping berarti mengeluarkan sejumlah itu sendiri demikian Qardhawi mengutip pendapat Zamakhsari. Jumlah yang dikeluarkan dari kekayaan itu disebut zakat karena yang dikeluarkan itu menambah banyak, membuat lebih berarti, dan melindungi kekayaan itu dari kebinasaan. Sedangkan menurut terminology syariat, zakat adalah nama bagi sejumlah harta tertentu yang telah mencapai syariat tertentu yang diwajibkan oleh Allah untuk dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula.

Hubungan antara pengertian zakat menurut bahasa dan pengertian menurut istilah sangat nyata dan erat kekali. Bahwa harta yang dikeluarkan zakatnya akan menjdi berkah, tumbuh, berkembang dan bertambah suci dan bersih (baik).

B. Jenis-jenis zakat

Zakat dibagi menjadi dua yaitu zakat fitri (nafs) dan zakat harta (maal), adapun zakat maal dibagi lagi dalam dua perspektif, diantaranya:

1. Jenis Zakat Maal dalam Perspektif Fiqh Klasik

  1. Zakat hewan ternak
  2. Zakat emas, perak dan uang
  3. Zakat perniagaan/kekayaan dagang
  4. Zakat pertanian
  5. Zakat rikaz

2. Jenis Zakat Maal dalam Perspektif Fiqh Kontemporer

  1. Zakat penghasilan dan profesi
  2. Zakat perusahaan
  3. Zakat barang tambang, hasil laut dan perikanan
  4. Zakat hasil manfaat

Selain empat macam terakhir dari zakat harta kontemporer tersebut di atas, para ulama fiqh Islam kontemporer masih menawarkan banyak macam lagi zakat harta dari perolehan yang beragam, diantaranya:

  1. Zakat infestasi properti.
  2. Zakat saham dan surat berharga.
  3. Zakat ansurasi syari’ah.
  4. Zakat deposito.
  5. Zakat perdagangan mata uang.
  6. Zakat sektor usaha modern.
  7. Zakat sektor usaha modern.
  8. Zakat undian, hadiah dan tunjangan.

Pada prinsipnya nishab zakat dari macam zakat di atas disamakan dengan nilai nishab emas, 85 gram, dan besarnya zakat yang dikeluarkan 2,5%. Sebagian ulama masih memperselisihkan wajib tidaknya mengeluarkan zakatnya.

C. Pemberdayaan Zakat

Merujuk pada ayat-ayat diatas yang menerangkan mengenai zakat, sebetulnya sudah ideal bagaimana mengelola atau memberdayakan zakat, dari surat at-taubah ayat 60 mengenai ketentuan pembagian zakat, sejatinya ada dua yaitu diperuntukkan untuk umum dan juga untuk yang khusus, artinya tidak hanya tujuan keagamaan atau akhirat saja, akan tetapi berdimensi keduniaan juga, untuk kesejahteraan sehingga terciptanya integrasi social, yaitu seluruh warga masyarakat merasa bagian masyarakat, karena tidak ada diskriminasi.

Ayat mengenai ketentuan pembagian zakat tersebut merupakan bentuk dari kesungguhan Iman yang menggambarkan orientasi spiritual dengan ekspresinya adalah untuk filantropi atau pemberdayaan sebagai sesuatu yang otentik.

Para ulama menegemukakan pendapatnya bahwa zakat tidak hanya untuk membersihkan dari dosa akan tetapi membersihkan akhlak dan membiasakan jiwa seseorarang untuk senantiasa berbuat yang lebih utama. Zakat juga tidak hanya untuk menghiolangkan atau membersihkan dari dosa akan tetapi untuk fakir miskin, yang artinya berorientasi pada kemaslahatan umat, akan tetapi menghilangkan dari dosa juga merupakan salah satu hikmahnya.

Maka untuk mewujudkan implementasi pengelolaan zakat yang diharapkan yang bisa dilakukan adalah bagaimana mensinkronkan antara prinsip ekonomi islam dengan zakat itu sendiri, dapat dilihat beberaa prinsip ekonomi islam, diantaranya:

Menurut KH Abdullah Zaky Al-Koap prinsip pokok ekonomi Islam terbagi atas lima hal penting, yaitu :

  1. Kewajiban berusaha

Islam tidak mengizinkan umatnya menjauhkan diri dari pencaharian kehidupan dan hidup hanya dari pemberian orang. Tidak ada dalam masyarakat Islam, orang-orang yang sifatnya non-produktif (tidak menghasilkan) dan hidup secara parasit yang menyandarkan nasibnya kepada orang lain.

  1. Membasmi pengangguran

Kewajiban setiap individu adalah bekerja, sedangkan negara diwajibkan menjalankan usaha membasmi pengangguran. Tidak boleh ada pengangguran.

  1. Mengakui hak milik

Berbeda dengan paham komunis, Islam senantiasa mengakui hak milik perseorangan berdasarkan pada tenaga dan pekerjaan, baik dari hasil sendiri ataupun yang diterimanya sebagai harta warisan. Selain dari keduanya tidak boleh diambil dari hak miliknya kecuali atas keridhaan pemiliknya sendiri.

  1. Kesejahteraan agama dan sosial

Menundukkan ekonomi dibawah hukum kepentingan masyarakat merupakan suatu prinsip yang sangat penting masa kini. Prinsip ini ditengok oleh Islam dengan suatu instruksi dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. sebagai kepala Negara Islam. Yang diantaranya adalah kewajiban untuk mengambil zakat kepada kaum muslimin.

  1. Beriman kepada Allah SWT

Pokok pendirian terakhir ialah soal ketuhanan. Mengimankan ketuhanan dalam ekonomi berarti kemakmuran yang diwujudkan tidak boleh dilepaskan dari keyakinan kutuhanan. Sewajarnya urusan ekonomi jangan melalaikan kewajiban kepada Allah SWT, harus menimbulkan cinta kepada Allah SWT, menafkahkan harta untuk meninggikan syi’ar Islam dan mengorbankan harta untuk berjihad dijalan Allah SWT.

Untuk itu ketika melihat beberapa prinsip ekonomi Islam diatas, maka yang bisa kita lakukan adalah memilah-milah mana zakat yang bisa di berdayakan untuk mengatasi atau untuk memenuhi prinsip ekonomi Islam satu persatu. Akan tetapi melihat keadaan sekarang bahwa zakat masih menjadi sesuatu yang sacral, yaitu masyarakat awam masih menganggapnya hanya suatu ibadah yang berorientasi menggugurkan kewajiban saja dan mempunyai aturan yang tetap, maka yang perlu dilakukan adalah menyadarkan mereka bahwa zakat mempunyai potensi besar untuk kesejahteraan.

Kemudian dapat diambil pendapat-pendapat para ulama yang mengemukakan bahwa zakat adalah untuk kemaslahatan umat. Diantara zakat yang bisa kita ambil contoh untuk menjawabpotensi tersebut adalah diantaranya zakat bagi anak-anak, bahwa Rasulullah bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh at-Tirmudzi dari amir bin syuaib dari ayahnya dari neneknya bahwa Rasulullah SAW. Berkhotbah didepan umum:

Artinya: “ketahuilah, barang siapa yang menjadi wali anak yatim yang memiliki harta, hendaklah ia putarkan (perniagakan) hartanya, dan jangan membiarkannya hingga dimakan oleh zakat.”

Melalui hadis ini Rasulullah SAW memerintahkan kepada orang-orang yang menjadi wali anak yatim agar memutarkan ataupun memperniagakan hartanya untuk memperoleh keuntungan. Rasulullah juga melarang membiarkan harta anak yatim tersebut tanpa diputarkan atau diperniagakan sehingga akan berkurang harta tersebut karena dikeluarkan untuk zakat kalau dibiarkan saja. Karena tanpa diperniagakan maka harta tersebut habis untuk zakat, karena zakat merupakan kewajiban maka wajib dikeluarkan zakatnya. Diriwayatkan secara mauquf kepada Umar r.a. bahwa mengeluarkan sedekah yang merupakan sunah dari harta anak yatim tidak diperbolehkan, kecuali dalam hal yang wajib, maka itu menjadi wajib, seperti zakat, ini dikarenakan wali tidak diperkenankan ber-tabarru’ dengan harta milik anak kecil.

Kemudian melihat sejarah dimana zakat sangat berpotensi dan maju untuk kebijakan moneter pada saat itu ialah ketika pada masa khalifah Khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq (51 SH-13 H/573-634 M), dimana belau sangat memperhatikan zakat dengan sebenar-benarnya, beliau sangat Perhatian terhadap keakuratan perhitungan zakat, seperti yang dikatakan anas( seorang amil) bahwa, jika seseorang yang harus membayar unta betina berumur satu tahun sedangkan dia tidak memilikinya dan ia menawarkan untuk memberikan seekor unta betina berumur dua tahun, hal tersebut dapat diterima. Kolektor zakat akan mengembalikan 20 dirham atau dua ekor kambing padanya (sebagai kelebihan pembayaran). Dalam kesempatan lain Abu Bakar juga menginstruksikan kepada amil yang sama, kekayaan dari ornag yang berbeda tidk dapat digabung atau kekayaan yang telah digabung tidak dapat dipsahkan ( dikhawatirkan akan kelebihan pembayaran atau kekurangan penrimaan zakat).

BAB III

PENUTUP

 

Maka, dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bagaimana untuk memberdayakan zakat, diantaranya yaitu langkah-langkahnya sebagai berikut:

  1. Mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada amil zakat atau yang mengelola zakat.
  2. Menyadarkan masyarakat bahwa zakat tidak hanya sebagai ritual keagamaan, akan tetapi sebuah senjata untuk kemaslahatan umat. Membersihkan akhlak untuk senantiasa membiasakan berbuat yang lebih utama.
  3. Memilah –milah zakat yang berpotensi untuk mengatasi atau memenuhi prinsip-prinsip ekonomi Islam.
  4. Memperniagakan harta agar berputar sehingga mendapatkan keuntungan.
  5. Memperhatikan terhadap keakuratan perhitungan zakat.