Nama   : DARMONO

Nim      : 09380004

Jur/ kls : Mu’amalat- A

Tugas Resume Sejarah Hukum Islam

 

  1. A.     PENGERTIAN-PENGERTIAN DASAR DALAM HUKUM ISLAM: SYARI’AH, FIQH, TASYRI’ DAN IJTIHAD.

 

  1. 1.      Syari’ah

a. Syari’ah menurut etimologi berakar pada kata ش ر ع adalah:

مورد الماء الذي يقصد للشرب

            Artinya : “Sumber air yang dituju untuk minum”

b. Menurut terminologi adalah:

مجموعة الاوامر والحكام والاعتفادية والعملية التي يوجب الاسلام تطبيفها لتحقيق اهدافه الاصلاحية في المجتمع

                        Artinya : “Kumpulan perintah dan hukum-hukum i’tiqadiyah dan ‘amaliyah yang                                     diwajibkan oleh islam untuk diterapkan guna merealisasikan tujuannya                            yakni    kebaikan dalam masyarakat.”

Jadi, pembahasan syari’ah meliputi segala hukum, baik yang berhubungan dengan aqidah, akhlak, dan yang berhubungan dengan perilaku manusia yang berupa perkataan, perbuatan, dan tindakan-tindakan lainnya yang tidak termasuk dalam masalah aqidah dan akhlaq.

  1. 2.      Fiqh
    1. Secara Etimologi berakar pada kata ف ق ه  adalah الفهم yang berarti pemahaman.
    2. Menurut terminologi adalah:

العلم بالاحكام الشرعية العملية المكتسب من ادلتها التفصيلية

            Artinya : “Fiqh adalah ilmu yang menerangkan hukum-hukum syara’ yang ‘amali                                     (praktis) yang diusahakan dari dalil-dalilnya yang tafshil.”

 

  1. 3.      Tasyri’

Kata Tasyri’ diambil dari kata syari’ah. Tasyri’ berarti: menetapkan hukum. Sinonim dari tasyri’ adalah Taqnin yang berarti menetapkan peraturan atau mengadakan undang-undang.

Dalam penetapan syari’ah, yang menetapkannya adalah Allah swt semata. Sebab di dalam tasyri’ terdapat hal-hal yang bersangkut paut dengan masalah-masalah gaib yang tidak dapat dijangkau oleh manusia.

 

  1. 4.      Ijtihad
    1. Menurut etimologi adalah:

بذل غاية الجهد في الوصول الي امر من الامور او فعل من الافعال

            Artinya : “Pencurahan segenap kesanggupan untuk mendapatkan sesuatu urusan                                    atau sesuatu             perbuatan.”

  1. Secara terminologi adalah:

استفراغ الجهد وبذل غاية الوسع في ادراك الاحكام الشرعية

                        Artinya : “Pengerahan kesungguhan dengan usaha yang optimal dalam menggali                          hukum syara’.”

                        Ijtihad dalam arti luas meliputi:

1)      Pencurahan segenap kemampuan untuk mendapatkan hukum syara’ yang dikehendaki oleh nash yang zhanni dilalahnya.

2)      Pencurahan segenap kemampuan untuk mendapatkan hukum syara, yang amali dengan menetapkan Qaidah Syariah Kulliyah.

3)      Pencurahan segenap kesanggupan untuk mendapatkan hukum syara’ yang amali tentang masalah yang tidak ditunjuki hukumnya oleh suatu nash dengan menggunakan sarana-sarana yang direstui oleh syara’ untuk digunakan mengenai masalah tersebut untuk ditetapkan hukumnya.

 

 

 

 

  1. B.     SUMBER-SUMBER HUKUM YANG DIPERSELISIHKAN

 

  1. 1.      Qiyas
    1. Qiyas  secara Etimologi adalah:

تقديرالشيء باخر ليعلم المساواة بينهما

               Artinya : “Mengukur sesuatu dengan yang lain agar diketahui perbedaan antara                       keduanya.”

  1. b.      Secara Terminologi adalah:

الحاق واقعة لا نص علي حكمها بواقعة ورد نص بحكمها في الحكم الذي ورد النص لتساوي الواقعتين في علة هذا الحكم                                                                         

            Menyamakan hukum suatu peristiwa yang tidak ada nash mengenai hukumnya, dengan suatu peristiwa yang telah ada nash hukumnya, karena adanya persamaan ‘illah.

 

  1. 2.      Istihsan
    1. Secara Etimologi adalah:

عد الشيء حسنا  

            Artinya : “Menganggap Sesuatu itu baik.”

 

  1. Secara Terminologi:

 العدول عن حكم اقتضاه دليل شرعية في واقعة الي حكم اخر فيها لداليل شرعي اقتضي هذا العدول

            Artinya : “Beralih dari satu hukum mengenai satu maalah yang ditetapkan oleh                            dalil syara’ kepada hukum lain (dalam masalah itu), karena adanya dalil                               syara’ yang menghendaki demikian.”

  1. 3.      Ishtislah
    1. Secara Etimologi: Mencari Kemashlahatan

 

  1. Secara Terminologi:

المصلحة التي لم يشرع الشارع حكما لتحفيفها و لم يدل دليل شرعي علي اعتبارها او الغاءها وسميت مطلقة لانها لم تقيد بدليل اعتبار او دليل الغاء

            Artinya : “Istislah adalah kemashlahatan yang tidak disyari’atkan oleh syari’ dalam                      wujud hukum, di dalam rangka menciptakan kemashlahatan di samping                                    tidak ada dalil yang membenarkan dan yang menyalahkan. Karenanya, istislah (maslahah mursalah ) itu disebut mutlaq lantaran tidak terdapat dalil yang menyatakan benar dan salah.”

  1. 4.      Istishab
    1. Secara Etimologi:

اعتبار المصاحبة

            Artinya : “Pengakuan terhadap hubungan pernikahan.”

  1. Secara Terminologi:

استبقاء الحكم الذي ثبت بدليل في الماضي قاءما في الحال حتي يوجد دليل يغيره

            Artinya : “Membiarkan berlangsungnya suatu hukum yang sudah ditetapkan pada                                   masa lampau dan masih diperlukan ketentuannya sampai sekarang kecuali                                  jika ada dalil yang merubahnya.”

  1. 5.      ‘Urf
    1. Secara Etimologi:

العرف لغة المعروف

            Artinya : “Sesuatu yang diketahui.”

 

  1. Secara Terminologi:

ما تعارفه الناس وا ساروا عليه من قول او فعل او ترك و يسمي العادة

                        Artinya : “Sesuatu yang telah saling dikenal ileh manusia dan mereka                                           menjadikannya sebagai tradisi, baik berupa perkataan, perbuatan ataupun                                  sikap meninggalkan sesuatu ‘Urf disebut juga adat kebiasaan.”

  1. 6.      Syar’un Man Qoblana
    1. Secara Etimologis

ما شرع الله لمن قبلنا من الامم

            Artinya : “Hukum yang disyari’atkan oleh Allah bagi orang-orang sebelum kita”

  1. Secara Teminologi: syari’at yang dibawa para rasul dahulu, sebelum diutus nabi Muhammad S.A.W. yang menjadi petunjuk bagi kaum mereka , seperti syari’at nabi Ibrahim, syari’at nabi Musa, syari’at nabi Daud.

 

  1. C.     METODE ISTINBATH HUKUM IMAM YANG EMPAT

 

  1. 1.      Imam Abu Hanifah (Nu’man Bin Tsabit)

Dalam melaksanakan istinbath hukum beliau mendasarkan pada:

  1. Al-Qur’an
  2. Hadits Nabi yang shahih saja

Hadits yang dipakai untuk dijadikan dasar hukum haruslah hadits yang stasusnya shahih  saja, bahkan yang lebih baik hadits yang mutawatir. Jika masalah itu tidak terdapat dalam hadits yang shahih, maka pindah kepada ra’yu (Qiyas), karena mengambil dasar hukum dengan pendapat qiyas lebih terjamin kebenarannya daripada hadits-hadits yang stastusnya diragukan. Hal ini sangat beralasan, mengingat posisi historitas Kufah sangat jauh dari makkah ataupun madinah, disamping itu, di daerah Kufah tidak begitu banyak pemangku hadits.

  1. Ijma’ Sahabat Nabi
  2. Qiyas
  3. Istihsan (kebaikan umum)

 

  1. 2.      Imam Maliki (Malik Bin Anas)

Dasar-dasar istinbath beliau adalah:

  1. Al-Qur’an
  2. Hadits Rasul yang Shahih
  3. Ijma’ ‘Amalan Ahli Madinah

Metode ini sangat penting dalam istinbath hukum dalam madzhab maliki, bahkan apabila terjadi kontradiksi antara hadits dengan ‘amalan ahli madinah, beliau mendahulukan amalan ahli madinah, dengan alasan ‘amalan orang madinah sama juga dengan hadits, dan bahkan lebih tinggi derajatnya dari hadits. Karena hadits-hadits diriwayatkan dengan perkataan. Tetapi ‘amalan orang madinah diriwayatkan dengan perbuatan, dengan artian perbuatan nabi dilihat oleh sahabat lantas diikuti dan dikerjakan. kemudian diajarkan lagi oleh sahabat kepada murid-muridnya dan begitulah seterusnya. Beliau juga mengatakan: ” manakah lebih kuat perkataan dan perbuatan? Tentu saja perbuatan”.

  1. Qiyas
  2. Maslahah Mursalah/Istislah (Kepentingan Umum).

 

  1. 3.      Imam Syafi’i (Muhammad Bin Idris)

Dasar-dasar Istinbath hukum beliau adalah:

  1. Al-Qur’an
  2. Hadits Shahih

Beliau berpendapat bahwa hadits lebih diutamakan daripada Ra’yu maupun ‘amalan orang madinah. Namun dengan catatan haditsnya berstatus shahih, sedangkan hadits yang dho’if hanya digunakan untuk Fadhailul A’mal saja.

  1. Ijma’ Para Mujtahid
  2. Qiyas

 

 

  1. 4.      Imam Hambali (Ahmad Bin Hambal)
    1. Al-Qur’an
    2. Hadits Nabi

Beliau berpendapat, bahwa apabila tidak terdapat hukum  dalam al-Qur’an maka carilah dalam hadits nabi, sekali lagi hadits nabi, sekalipun hadits itu statusnya dha’if. Beliau berpendapat hadits, sekalipun dalam keadaan dha’if adalah hadits juga, hanya pemangkunya yang diragukan.

  1. Ijma’ sahabat nabi
  2. Qiyas

 

Dari keterangan di atas dapat kita simpulkan bahwa:

  1. Ke-empat madzhab memakai al-Qur’an menjadi dalil utama.
  2. Imam Hanafi lebih mendahulukan pemakaian qiyas daripada hadits-hadits yang statusnya diragukan.
  3. Hadits lebih diutamakan dari qiyas dalam madzhab Maliki, Syafi’i dan Hambali.
  4. Imam Ahmad memakai hadits dha’if dalam penetapan hukumnya.
  5. Istihsan hanya dipakai dala madzhab Hanafi, sedangkan maslahah mursalah hanya ada dalam madhzhab Maliki.
  6. Tentang ijma’ berbeda-beda pendapatnya.
    1. Imam Hanafi memakai ijma’ sahabat-sahabat nabi.
    2. Imam Maliki memakai Ijma’ orang Madinah
    3. Imam Syafi’i memakai ijma’ imam-imam mujtahid yang ahli.
    4. Imam Hambali memakai ijma’ sahabat nabi.